Home Berita Dorong Pemerintah Tuntaskan Kasus Djoko S Tjandra

Dorong Pemerintah Tuntaskan Kasus Djoko S Tjandra

80
0
SHARE
Kelik Endro Suryono SH MHum. (tiras.co/ ist)

YOGYAKARTA, tiras.co – Tiga jenderal polisi yang terlibat kasus Djoko S Tjandra menjalani pemeriksaan dan dibawa ke ranah hukum. Mereka diduga terlibat memberi jalan bagi buronan yang lama dicari tersebut. Banyak pihak minta agar kasus itu diusut tuntas.

Dekan Fakultas Hukum Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) Kelik Endro Suryono SH MHum mengatakan di kepolisian berlaku sistem komando sehingga pemimpin atau atasan yang bertanggung jawab. Atasan harusnya bisa menjadi teladan bagi anak buahnya.

”Dalam kepolisian berlaku sistem komando, maka atasan yang bertanggung jawab. Tanpa ada aturannya pun atasan tetap harus jadi teladan. Karena itu semua kita kembalikan goodwill dari kepolisian dan pemerintah. Apakah kinerja kepolisian yang sudah dibangun sedimikian rupa harus dirusak oleh oknum polisi yang menyalahgunakan kewenangan. Presiden dan pemerintah harus mendorong kasus ini diselesaikan secara tuntas, karena akan sangat berpengaruh pada penilaian kinerja pemerintah,” papar Kelik.

Ia menambahkan banyak hal mempengaruhi perilaku petugas dan proses rekrutmen sangat berpengaruh. Mekanisme rekrutmen menurutnya harus lebih transparan seperti pada pola rekrutmen CPNS. Mengenai reward dan punishment, ia menilai tanpa itu pun sebenarnya bisa berjalan. Jika ada pelanggaran oleh oknum, langsung saja ditindak tegas. Langkah ini sudah dilakukan dengan mencobot jabatan tiga jendral yang diduga terlibat kasus Djoko S Tjandra.

Faktor Kepemimpinan

”Sebagai institusi penegak hukum, kepolisian menjadi pihak yang paling dipertanyakan kesungguhannya menegakkan hukum seiring keterlibatan tiga jenderal memberi hak-hak istimewa kepada Djoko S Tjandra. Hukum diinjak-injak aparat negara tepat di jantungnya,” imbuh psikolog Th Dewi Setyorini SPsi MSi yang melihat dari sisi psikologi kepemimpinan.

Ia mengatakan perlu dan pentingnya peran kepemimpinan di lingkungan Mabes Polri yang dapat benar-benar hadir sebagai pribadi unggul, seperti terlihat dalam kasus Djoko S Tjandra. Lembaga tersebut memerlukan kepemimpinan yang benar-benar dapat menjadi teladan bagi jajarannya dan masyarakat.

Pada dasarnya, menurut Dewi, kepemimpinan hadir merupakan kepemimpinan yang berbasis nilai dan ini merupakan strategi agar dekat di hati anak buah demi mencapai tujuan bersama institusi maupun anggota. Kepemimpinan hadir adalah kepemimpinan yang tidak mengedepankan unsur kekuasaan namun menonjolkan sisi humanisme sebagai pribadi yang mengejawantah dalam kehidupan keseharian. Hasilnya, gaung positifnya lebih mudah ditangkap anak buah dan menjadi acuan menjalankan tugas sehari-hari.

Ia mencontohkan di tengah kasus yang melibatkan sejumlah atasan, masih ada yang berprestasi. Baru saja jajaran Sat PJR Kartasura, Jateng di bawah komando Dirlantas Polda Jateng Kombes Pol Arman Achdiat berhasil menangkap penjahat lintas provinsi dan kerja nyata lainnya. Inilah potret dua sisi berbeda, pada level pimpinan sejumlah jenderal mengobrak abrik tatanan hukum sedangkan dalam tataran taktis di lapangan, sejumlah anggota polisi berpangkat rendah dengan kesadaran terjaga menyuguhkan kinerja baik saat menjalankan sistem hukum.

”Di sinilah pentingnya pemimpin hadir yang tak semata mendudukkan dirinya sebagai seseorang yang harus dihargai, diberi tempat paling terhormat, atau bahkan ditakuti. Pemimpian hadir sebagai pribadi yang memberi ruang yang longgar bagi anak buah untuk mengembangkan diri. Ia menciptakan hitam putih, pelangi, bahkan hidup mati institusinya,” imbuh Dewi.(yudhistira)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here