Dekayu Berawal dari Ide Manfaatkan Limbah Kayu

    11Yaniar Fernanda
    BERBINCANG: Yaniar Fernanda owner Dekayu berbincang dengan host saat taping konten youtube JNE. (tiras.co/Ist)

    IA mengawali bisnisnya pada tahun 2017 lalu. Berbekal semangat dan keinginan berwirausaha, Yaniar Fernanda memilih kerajinan kayu sebagai usaha rintisan.
    Nia, sapaan akrabnya, melihat limbah kayu berupa potongan-potongan yang banyak dihasilkan para pengrajin, idenya lantas muncul untuk membuat lampu kayu. Bukan lampu kayu biasa namun lampu kayu custom ini dapat dipesan sesuai dengan keinginan atau desain dari pembelinya.
    Seiring dengan permintaan pasar dan pelanggan Dekayu yang semakin kompleks, Nia mencoba mengembangkan produk kayu menjadi produk inovasi yang dapat digunakan keperluan sehari-hari. Ia kemudian mulai menggerakkan perajinnya yang berada di Wonosari, Gunungkidul, DIY untuk memproduksi piring, gelas, sendok, garpu maupun perabotan rumah dari kayu.
    Gayung pun bersambut, produk baru Dekayu direspons positif komunitas fotografi. Mereka memanfaatkan produk-produk tersebut sebagai properti foto. Sejak itu Dekayu mengalami peningkatan pesanan yang signifikan.
    Bahkan saat pandemi Covid-19 seperti ini jumlah pengiriman paket per hari dari Dekayu stabil, antara 80-100 paket. Timnya mulai disibukkan dengan pengemasan dan pengiriman ke ekspedisi.
    Nia merasa sangat terbantu dengan adanya fasilitas penjemputan paket dari JNE. Setidaknya waktu dan tenaga karyawan yang tadinya harus bolak-balik ke ekspedisi dapat dialihkan untuk membantu pekerjaan lainnya. Jika pesanan meningkat tajam seperti saat lebaran, Nia bisa memesan penjemputan lebih dari sekali dalam satu hari.

    11dekayu
    PRODUK: Salah satu produk hampers kreasi Dekayu. (tiras.co/Ist)

    Member JNE
    Setelah bergabung sebagai member JLC, Nia merasa diuntungkan dengan adanya poin setiap melakukan transaksi di JNE. “Kadang kita nggak sempat cek jumlahnya. Tahu-tahu dapat gift balik dari poin yang ditukarkan dengan hadiah pilihan” kata Nia.
    Menurutnya, kebutuhan pengiriman paket tak cukup sekadar barang sampai ke alamat, namun juga bagaimana agar paket Dekayu diterima dalam keadaan aman dan tetap cantik. Itulah mengapa Nia memilih JNE sebagai ekspedisi karena selain tepat waktu, JNE juga dapat menjaga keamanan produk-produk Dekayu yang rata-rata berbentuk bingkisan. Selain itu, layanan chat customer care JNE Yogyakarta juga memudahkannya dalam pengecekan status paket.
    Di sudut ruangan, salah satu karyawannya melakukan pengecekan barang di warehouse Dekayu yang terletak di Jl. M Supeno, tak jauh dari toko offline. Dekayu menerapkan quality control untuk setiap produk yang dipesan sebelum kemudian dikemas dan dikirimkan ke pembeli.
    Perempuan dua anak ini menuturkan offline store-nya mulai buka pada tahun lalu. Awalnya hanya melayani pembelian secara online, namun karena banyak pelanggan yang ingin memastikan produknya sesuai dengan pesanan dengan datang langsung, akhirnya Nia membuka toko tak jauh dari warehouse ini agar pelanggan merasa nyaman berbelanja.
    Kepala JNE Cabang Yogyakarta, Adi Subagyo mengatakan meskipun tak menduga adanya pandemi, JNE telah siap merintis jalur darat sebagai alternative moda transportasi selain jalur udara. Sehingga ketika seluruh bandara sempat tutup di masa awal pandemi, pengiriman barang para pelanggan setia tetap selamat sampai tujuan dengan tepat waktu.
    bambang sk

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here