Home Tekno Dari Jualan Jagung, Kini Nominator Pemuda Pelopor Nasional

Dari Jualan Jagung, Kini Nominator Pemuda Pelopor Nasional

606
0
SHARE
anif pemuda pelopor
Anif

PURBALINGGA,tiras.co- Berawal berjualan jagung milik warga, Anif Muchlasin (22) mampu menggerakkan remaja di tempat tinggalnya di RT 5/RW 7 Desa Karangtengah, Kecamatan Kemangkon, Purbalingga.

Laba berjualan jagung itu dibelanjakan buku Iqra dan kartu prestasi. Dengan modal itu, Anif akhirnya membuat semacam tempat belajar Alquran. Tahun 2010 menjadi titik awal, pemuda lulusan Universitas S-1 Sunan Ampel Surabaya ini dalam merintis kepeloporan bidang pendidikan di kampungnya.

Anif harus mengumpulkan uang itu karena ia merasa berasal dari keluarga miskin yang hidup pas-pasan. Ayahnya Hadi Suyono hanya bekerja sebagai tukang becak, sementara ibunya Miriyah hanya sebagai ibu rumah tangga biasa. Pendidikan S-1 dibiaya pemerintah melalui program Bidik Misi.

Rintisan itu semakin berkembang menjadi sebuah komunitas yang diberinama ‘Lentera hati’. Komunitas ini mendidik katalisator muda hebat dari desa. “Dengan keterbatasan yang ada, saya dibantu beberapa teman berjualan jagung keliling milik warga. Laba dari hasil jualan jagung itu saya gunakan untuk membeli buku dan perlatanan sebagai pelengkap taman bacaan Alquran,” kenang Anif di sela-sela peninjauan lapangan oleh Tim Juri Tingkat Nasional Pemuda pelopor bidang pendidikan di Desa Karangtengah, Kemangkon, Rabu (27/9/2017).

Anif sebelumnya meraih juara I pemuda pelopor tingkat Jateng tahun 2017. Atas prestasi itu, Anif diusulkan oleh Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Dinporapar) Provinsi Jateng guna mengikuti lomba yang sama tingkat nasional. Oleh Kementerian Pemuda Olah Raga (Kemenpora), Anif dinyatakan sebagai salah satu nominator. Anif harus bersaing dengan 18 peserta lainnya se-Indonesia dari 17 provinsi. “Kami tidak mentargetkan Anif jadi juara I nasional, tetapi kami ingin Anif membawa nama baik Purbalingga dan Provinsi Jawa Tengah serta ikut diundang pada peringatan hari Sumpah pemuda tingkat nasional tanggal 28 Oktober mendatang di Jakarta,” kata Kepala Dinporapar Purbalingga Drs Imam Hadi, M.Si.

Anif mengungkapkan, Komunitas Remaja Lentera Hati (KRLH) dibentuk atas dasar keprihatinan banyaknya kasus narkoba di kalangan remaja, akses media porno, kasus aborsi, tawuran, dan geng motor.

“Berawal dari rasa keprihatinan atas kondisi yang menimpa kalangan remaja itu, maka saya ingin menrahakan anak-anak remaja di desa agar tidak terjerumus ke hal negatif. Ketika membentuk komunitas itu saya berprinsip, hidup harus bisa bermanfaat bagi orang lain, termasuk bagi kalangan remaja di desa saya,” kata Anif yang kini tengah menempuh pendidikan sekolah Pascasarjana Ketahanan Nasional dengan konsentrasi pengembangan Managemen Kepemimpinan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Anif mengikuti pendidikan S-2 itu atas beasiswa dari Kemenpora.

Sementara itu Tim Penilai Pemuda Pelopor Tingkat Nasional, Miftah Zaeni mengungkapkan, seorang pemuda disebut sebagai pelopor apabila dia memulai sesuatu yang belum dilakukan oleh orang lain. Jika sesuatu tersebut sudah dimulai orang lain, dia bukan pelopor tapi pelestari. “Pemuda pelopor harus memiliki ide, inovasi dan kreasi yang bisa memberikan manfaat bagi orang lain atau masyarakat di sekitarnya,” kata Zaeni.

prasetiyo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here