Home Berita Cangkang Kakao untuk Obat Bronkitis

Cangkang Kakao untuk Obat Bronkitis

478
0
SHARE

JOGJA, tiras.co – Kulit keras atau cangkang kakao biasanya hanya menjadi sampah, dibuang begitu saja atau dibakar. Belum banyak yang memanfaatkan padahal cangkang tersebut mengandung zat yang bermanfaat bagi kesehatan manusia.

Mahasiswa Program Studi Kimia dan Farmasi Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Islam Indonesia (FMIPA UII) mencoba meneliti cangkang kakao. Hasilnya, mereka bisa mengolah limbah cangkang kakao (Theobroma cacao) menjadi obat penyakit bronkitis kronik. Penelitian Ratih Lestari. Aditya Sewanggara dan Kartika Puspitasari berhasil lolos ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional 2018 yang akan digelar akhir tahun ini di UNY.

“Cangkang atau kulit keras buah kakao mengandung senyawa flavonoid. Senyawa ini mampu menghambat pertumbuhan bakteri Klebsiella pneumoniae penyebab penyakit bronkitis,” ungkap Ratih yang memberi nama penelitiannya ”Nano Shark Kao” di kampusnya, kemarin.

Ia dan teman-temannya mendapatkan limbah kakao di dekat tempat wisata Nglanggeran atau Gunung Purba di Patuk, Gunungkidul. Di sana banyak pohon kakao dan sebagian warga memanfaatkan buahnya untuk minuman khas daerah.

Uji Klinis

Proses pembuatan obat dari cangkang kakao cukup mudah. Cangkang dikeringkan kemudian dihaluskan hingga menjadi serbuk. Selanjutnya, serbuk direndam di dalam ethanol. Tetapi serbuk yang dihaluskan masih terlalu besar sehingga tidak dapat diserap darah. Karena itu, mereka memperkecil partikel menggunakan teknologi nano.

Tim telah melakukan uji pre klinis pada dua tikus. Satu tikus diberi “Nano Shark Kao” sedangkan satu tikus tidak diberi obat. Hasilnya, paru-paru tikus yang diberi nano berwarna bersih, juga ususnya bersih. Tikus yang tidak diberi nano, paru-parunya berwarna hitam dan ususnya juga hitam.

Kartika menambahkan penelitian merupakan Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian Eksakta (PKM-PE). Ide membuat penelitian berdasarkan data yang dirilis World Health Organization (WHO) yaitu jumlah perokok di dunia sebanyak 1,2 miliar. Indonesia menempati urutan ketiga jumlah perokok terbesar. Asap rokok mengandung senyawa racun organo klorin yang dapat memicu pertumbuhan bakteri Klebsiella pneumoniae yaitu salah satu bakteri penyebab bronkitis kronik.

“Kami memanfaatkan limbah kulit kakao sebagai solusi pengobatan bronkitis kronik menggunakan metode nanospray yang berbasis gelasi ionik. Prinsip nano digunakan untuk memperkecil ukuran zat aktif sediaan obat sehingga lebih mudah diabsorpsi ke dalam sel target,” jelasnya.

yudhistira

)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here