Home Berita Cak Imin: Saatnya Budaya Jadi Panglima

Cak Imin: Saatnya Budaya Jadi Panglima

564
0
SHARE

JOGJA, tiras.co – Wakil Ketua MPR RI Muhaimin Iskandar menilai saatnya budaya harus menjadi panglima untuk Indonesia. Budaya harus menjadi paradigma, cara berpikir dan berbuat untuk bangsa ini.

“Inilah saatnya mengembalikan daulat rakyat, dengan kebudayaan sebagai panglima nusantara,” ujarnya dalam Dialog Budaya di Angkringan (JAC) Pendopo nDalem, Yogyakarta, Jumat (13/4/2018). Acara digelar secara lesehan, dihadiri sejumlah budayawan dan seniman, seperti Eros Djarot dan sutradara Fajar Nugros. Acara mengusung tema “Kebudayaan adalah Panglima” malam itu dimeriahkan dengan penampilan penyanyi jazz Syaharani, stand up comedy Anang Batas, dan pemusik Sri Krishna.

Cak Imin, sapaan akrab Muhaimin Iskandar melihat kondisi bangsa saat ini sedang hiruk pikuk, bahkan pengap oleh berbagai dinamika. “Perpolitikan kita tensinya tinggi. Berbagai kelompok senantiasa teriak untuk menang-menangan, terbanyak lewat twitter,” sebutnya.

Melalui dialog bersama seniman dan budayawan serta para mahasiswa tersebut diharapkan bisa memberi pendalaman dan warna empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara. Agar Pancasila, kebhinnekaan, UUD 45, NKRI menjadi satu langkah kehidupan yang lebih produktif, lebih manusiawi. Sehingga Indonesia akan lebih tentram, nyaman, dan tercipta persaudaraan, serta rasa kekeluargaan. “Akhir-akhir ini ‘kan ada kecurigaan antaranak bangsa, apalagi di tahun politik mulai saling menjelekkan, saling memberangus anak bangsa,” tunjuknya.

Di saat politik tidak hadir sebagaimana mestinya seperti itu, Cak Imin mengajak para seniman, budayawan dan para mahasiswa untuk keluar dari ruang yang pengap tersebut. Untuk bersatu padu, menyuarakan kembali, mendudukkan makna yang sesungguhnya. Kembali ke akar keberadaan sebagai bangsa yang berdaulat. Berpolitik dengan cara beradab, berkepribadian di bidang budaya. “Negeri ini milik kita semua, tanpa mengeliminasi atau memojokkan antara satu dengan lainnya.”

Diakui, demokrasi kita sedang mengalami percepatan, tapi di sisi lain ada dampak negatifnya. Terjadi persaingan yang menghabisi lawan politiknya. Ditunjuk contoh pelaksanaan Pilkada secara langsung. Mereka atau calon yang menang biasanya yang punya uang, sementara calon yang tidak punya uang hampir pasti kalah karena tidak ada sarana untuk melakukan serangan fajar. “Ini harus dievaluasi,” tegasnya.

Menurutnya, yang harus dibenahi adalah sistemnya, dan kedua pendidikan politik. “Saatnya orang muda terjun ke politik, sehingga saatnya nanti masyarakat akan memilih figur yang dicintai rakyat,” harapnya.

bambang sk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here