Home Berita BOB Akan Jadikan Kawasan Borobudur Area Wisata Terpadu

BOB Akan Jadikan Kawasan Borobudur Area Wisata Terpadu

379
0
SHARE

JOGJA, tiras.co – Badan Otorita Borobudur (BOB) siap mengembangkan kawasan Borobudur menjadi lebih terkoordinasi, sistematis, terarah dan terpadu. BOB bakal berubah menjadi Badan Layanan Umum. Dengan demikian tidak hanya bertugas mempercepat pembangunan pariwisata tetapi juga meningkatkan kesejahteraan warga sekitar kawasan tersebut.

Direktur Pemasaran Pariwisata BOB Agus Rochiyardi menjelaskan, BOB dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden No.46/ 2017 tentang Badan Otorita Pengelola Kawasan Borobudur. BOB berdiri untuk mengoptimalkan pengelolaan, pengembangan, dan pembangunan Kawasan Pariwisata Borobudur. Agar kawasan tersebut lebih terkoordinasi, sistematis, terarah, dan terpadu sehingga dapat mempercepat pembangunan. Sedangkan secara struktural, BOB merupakan Satuan Kerja (Satker) di bawah Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, sesuai Keputusan Menteri Pariwisata No.10/2017.

Dari ketentuan tersebut, lanjutnya, BOB memiliki dua tugas, yakni otoritatif dan koordinatif. Penugasan otoritatif mencakup pengelolaan lahan seluas 309 hektare di Perbukitan Menoreh, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Khusus untuk tugas koordinatif, wilayah yang diemban lebih luas, yakni meliputi tiga kawasan Destinasi Pariwisata Nasional (DPN). Antara lain Borobudur-Jogja dan sekitarnya, Solo-Sangiran dan sekitarnya, Semarang-Karimun, Jawa Tengah dan sekitarnya. Melalui BOB, diharapkan pembangunan pariwisata di kawasan tersebut tidak saling tumpang tindih dan berkontribusi bagi kesejahteraan warga sekitar.

Pada masa penugasan BOB, ada beberapa milestone yang harus dilalui. “Tahap awal ini kami [dibentuk] sebagai satuan kerja [Satker], tapi ke depan akan menjadi Badan Layanan Umum (BLU),” kata Indah dalam siaran persnya kepada tiras.co, Kamis (27/6/2019). Dengan menjadi BLU, lanjut dia, maka BOB dapat bergerak lebih fleksibel dalam mengembangkan kawasan wisata dan menimbulkan multiplier effect bagi kawasan di sekitar zona otorita.
Pariwisata Berkelanjutan

BOB merupakan perwakilan dari pemerintah sehingga keberadaannya harus bisa mensejahterakan masyarakat sekitar, bukan semata-mata mencari keuntungan. Kendati demikian, jika telah menjadi BLU, maka BOB akan memiliki pendapatan dari layanan, dengan catatan hal tersebut tidak memberatkan masyarakat. “Diharapkan masyarakat sekitar bisa tumbuh dan berkembang. Dan dengan adanya kami bisa menumbuhkan pariwisata di lingkungan sekitar zona otoritatif dan kami diminta untuk mengungkap local wisdom,” papar dia.

Agus mengatakan sesuai Perpres No.46/ 2017, BOB berdiri hingga 2042. Dalam jangka waktu tersebut, BOB bertugas mengelola lahan seluas 309 hektar. Dengan waktu penugasan yang panjang dan wilayah koordinasi yang luas, BOB tidak hanya berperan membangun tetapi juga mengembangkan pariwisata berkelanjutan. Lahan otorita yang dikelolanya adalah hutan pinus di Perbukitan Menoreh yang akan dikembangkan menjadi destinasi wisata yang berwawasan lingkungan. Artinya, BOB akan menjaga kondisi alam dan memberikan penambahan nilai berupa pengembangan destinasi pariwisata di atasnya yang bertema cultural ecotourism.

Saat ini BOB berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk mempercepat pengembangan zona otorita. Karena terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi untuk bisa mengembangkan lahan tersebut menjadi destinasi wisata. Diharapkan pariwisata berkelanjutan dapat terwujud sehingga aset budaya, peninggalan sejarah hingga lingkungan dapat tetap terjaga. Di sisi lain, masyarakat yang hidup berdampingan di kawasan tersebut dapat berkontribusi untuk menjaga sekaligus merasakan dampak pembangunan pariwisata untuk kesejahteraan mereka. */bambang sk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here