Home Berita Bebas Radikalisme (1)

Bebas Radikalisme (1)

233
0
SHARE
Haedar Nashir ketika menyampaikan pidato pengukuhan sebagai guru besar. (tiras.co/istimewa)

JOGJA, tiras.co – Radikalisme ideologi, politik, ekonomi, dan budaya sama bermasalah dengan radikalisme atau ektremisme beragama bagi masa depan Indonesia. ”Karenanya, diperlukan moderasi sebagai jalan alternatif dari deradikalisasi agar sejalan dengan Pancasila sebagai ideologi tengah dan karakter bangsa Indonesia yang moderat untuk menjadi rujukan strategi dalam menghadapi radikalisme di Indonesia,” papar Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir dalam pidato pengukuhan dirinya sebagai guru besar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Kamis (12/12/2019).

Pidato pengukuhannya mengusung tema ”Moderasi Indonesia dan Keindonesiaan dalam Perspektif Sosiologi”. Ia mengatakan moderasi Indonesia dan ke-Indonesiaan sebagai pandangan dan orientasi tindakan untuk menempuh jalan tengah atau moderat.

Merupakan keniscayaan bagi kepentingan masa depan Indonesia yang sejalan dengan landasan, jiwa, pikiran, dan cita-cita kemerdekaan sebagaimana terkandung dalam Pembukaan UUD 1945 dan spirit para pendiri bangsa.

Objektif

Moderasi Indonesia dan keindonesiaan niscaya objektif dalam seluruh aspek kehidupan kebangsaan seperti politik, ekonomi, budaya, dan keagamaan. Indonesia harus dibebaskan dari segala bentuk radikalisme, dari tarikan ekstrem ke arah liberalisasi dan sekularisasi maupun ortodoksi dalam kehidupan politik, ekonomi, budaya, dan keagamaan yang menyebabkan Pancasila dan agama-agama kehilangan titik moderatnya yang autentik.

Karenanya, lanjut Haedar, menjadi sesuatu yang bias dan peyoratif manakala radikalisme di Indonesia terbatas ditujukan objeknya pada radikalisme agama, khususnya Islam sebagaimana tercermin dalam berbagai pandangan dan kebijakan deradikalisasi di negeri ini, yang belakangan menimbulkan kontroversi dalam kehidupan kebangsaan.

Bias pandangan selain bertentangan dengan objektivitas kebenaran dan posisi Pancasila sebagai tolok ukur bernegara, pada saat yang sama hanya akan menjadikan Islam dan umat Islam terdakwa dalam stigma radikalisme, sekaligus mengabaikan radikalisme lainnya yang tidak kalah berbahaya atau bermasalah bagi kepentingan bangsa dan negara.(bambang sk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here