Home Berita Aspirasi Politik dalam Humor

Aspirasi Politik dalam Humor

243
0
SHARE
Sakdiyah Ma'ruf. (tiras.co/istimewa)

JOGJA, tiras.co – Bahasa humor dalam poster maupun spanduk pada berbagai aksi demonstrasi mahasiswa terlihat dalam beberapa waktu terakhir.

Komika Sakdiyah Ma’ruf menilai humor dalam komunikasi politik bukanlah hal yang baru. Awalnya humor banyak dipakai kaum marjinal sebagai alat berbicara.

”Rakyat kecil dan kelompok minoritas menggunakan olok-olok untuk refleksi diri sendiri sekaligus merefleksikan kondisi bangsa,” tutur Sakdiyah saat menjadi pembicara utama dalam seminar bulanan ”Melawan Dengan Gembira: Humor Dalam Komunikasi Politik Kebangsaan” di Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) UGM.

Bahasa humor, kata dia, kembali banyak bermunculan dalam aksi-aksi demonstrasi yang dilakukan mahasiswa yang merupakan bagian dari generasi milenial. Mereka berusaha menyampaikan aspirasi politik mereka melalui cara baru yakni dengan poster ataupun spanduk demo yang dikemas dalam gaya humor.

Gaya Humor

Menurut Sakdiyah ada empat gaya yang sering digunakan dalam aksi demo mahasiswa salah satunya yang langsung berfokus pada isu yang tengah berkembang di masyarakat.

Misalnya saja pada demo mahasiswa di Gedung DPR/MPR yang menolak RKUHP dan UU KPK. Contoh poster dengan gaya ini adalah ”DPR Udah Paling Bener Tidur; Malah Disuruh Kerja”. Berikutnya, menggunakan referensi budaya pop, salah satu contohnya penggunaan kata-kata ”Drama Korea Tidak Seasik Drama DPR”.

Referensi kehidupan pribadi juga kerap menjadi bahan dalam penyampaian aspirasi demonstrasi mahasiswa seperti dalam poster bertuliskan ”Cukup Cintaku Yang Kandas, KPK Jangan”. Terakhir dengan penggunaan bahasa secara acak seperti poster bertuliskan ”Aku Bingung Ameh Nulis Opo”.

”Saat ini sebenarnya terjadi krisis selera humor, terutama saat kampanye pemilu 2019. Tradisi humor politik menemui puncak kejayaan di saat era pemerintahan Presiden Gus Dur. Terobosan sangat diperlukan dan hanya bisa muncul dari keterbukaan dan kenegarawanan para politisi dan pemimpin bangsa,” tandas Sakdiyah.

Karena itu ia berharap komedian-komedian Tanah Air bisa lebih berani menyampaikan aspirasi melalui guyonannya. Dia berharap dalam lima tahun mendatang satir bisa memimpin sebagai kontrol. Ia menyebut media jadi pilar keempat demokrasi, satir bisa menjadi pilar kelima demokrasi.(yudhistira)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here