Home Berita Anton Wibisono: Perlunya Orang Muda Pelajari Budaya Jawa

Anton Wibisono: Perlunya Orang Muda Pelajari Budaya Jawa

413
0
SHARE

JOGJA, tiras.co – Kepala Seksi Pengelolaan Bidang Warisan Benda Dunia Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Kemendikbud, Anton Wibisono menilai generasi muda berkemampuan berpikir kritis dan mampu menjadi poros pendorong dalam usaha pelindungan dan promosi warisan budaya dunia di Indonesia. Karena itu perlunya mereka didorong mempelajari budaya Jawa.

Demikian disampaikan di sela pendampingan bagi 45 pelajar dan mahasiswa dari negara anggota ASEAN yang mengikuti World Heritage Camp Indonesia (WHCI) di DI Yogyakarta. Para peserta menyempatkan mengunjungi dan belajar membatik di Batik Griya Winotosastro, Tirtodipuran, Yogyakarta, belum lama ini. Kunjungan ini merupakan rangkaian kegiatan WHCI yang terbentuk karena sebuah isu mengenai kerentanan warisan budaya dunia dari ancaman-ancaman yang berasal dari luar maupun dalam negeri. Dalam acara yang digelar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan itu, para pelajar dan mahasiswa dari negara anggota ASEAN itu mengeksplorasi budaya Jawa di DIY.

Anton Wibisono menilai pentingnya pembelajaran budaya Jawa, karena munculnya kekhawatiran akan kerentanan warisan budaya dari ancaman yang berasal dari luar maupun dalam negeri. Melalui kegiatan WHCI ini, generasi muda diharapkan memiliki kesadaran menjaga kelestarian warisan budaya. “Melalui program ini diharapkan mampu mendorong orang muda menjadi pengambil keputusan untuk upaya pelestarian terhadap ancaman yang terus-menerus yang terjadi pada warisan dunia,” harapnya.

Ia sebutkan pada 2009 batik Indonesia sudah ditetapkan UNESCO sebagai bagian dari warisan budaya takbenda yang perlu dipahami. Bukan hanya hal-hal yang bersifat bendawi saja, melainkan dituntut untuk memahami lebih dalam, terutama pada tata nilai instrinsiknya yang sangat berharga.

Sementara DIY menjadi salah pilihan kunjungan karena memiliki kekayaan warisan budaya yang sangat beragam. Dengan demikian, mereka bisa belajar memahami warisan budaya, khususnya kaitan dengan Konvensi UNESCO. Para peserta juga diajak melihat warisan budaya takbenda, mulai dari Gua Braholo Gunungkidul, Candi Kendulan Sleman, Kotagede, Keraton Yogyakarta, serta griya batik dan wayang. Selain itu, mereka juga diajak ke Pasar Beringharjo untuk berinteraksi dan berwawancara langsung dengan para pedagang batik di pasar tradisional tersebut.

Kasi Pengusulan Warisan Budaya Takbenda Bidang Warisan Benda Dunia Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Kemendikbud, Hartanti Maya menenerangkan para peserta WHCI ini berasal dari Malaysia, Vietnam, Laos, Philipina dan Thailand.

Menurutnya dengan belajar membatik sebagai warisan leluhur budaya Nusantara, para peserta diharapkan dapat terlibat dalam pelindungan upaya pelestarian batik.

bambang sk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here