Home Berita Antisipasi Banjir, Gereja Wonosari Lestarikan Luweng

Antisipasi Banjir, Gereja Wonosari Lestarikan Luweng

834
0
SHARE

WONOSARI, tiras.co – Paroki Santo Petrus Kanisius Wonosari menggagas gerakan pelestarian luweng di sejumlah lokasi di Kabupaten Gunungkidul. Pelestarian luweng atau saluran tadah air hujan alami tersebut dilakukan sebagai gerakan kelestarian alam untuk antisipasi genangan air yang menjadi penyebab bencana banjir melanda di sejumlah lokasi belum lama ini.

Romo Rosarius Sapto Nugroho, Pr mengatakan, luweng resapan air alamiah merupakan salah satu sistem alam yang manfaatnya tidak banyak diketahui masyarakat. Karena ketidaktahuan tersebut, lubang tadah air ke jalur perut bumi beralih fungsi.”Kami banyak menemukan luweng menjadi tempat pembuangan sampah. Ini yang menyebabkan sistem alam air ke perut bumi tidak bisa lancar,” kata Romo Sapto di Gunungkidul, Senin (8/1/2018).

Kondisi luweng banyak di sekitar hunian permukiman warga, ladang, dan pegunungan, banyak tidak diketahui fungsi dan cara kerja alam. Selain berubah menjadi tempat pembuangan sampah, lubang mulut luweng banyak yang tertimbun tanah dan dedaunan sehingga air tidak cepat ditangkap bumi atau menggenang. Atas kondisi tersebut, Romo Sapto bersama relawan tim kerja pelayanan kemasyarakatan Paroki Wonosari kini tengah gencar menjalin kerjasama dengan seluruh masyarakat umum untuk menggagas kegiatan pelestarian luweng.

Salah satu pekerjaan pembangunan luweng sudah digagas gereja paroki tertua di Gunungkidul di lokasi RT 3 Dusun Blekonang, Desa Tepus. Kegiatan swadaya pembangunan luweng dilakukan dengan gerakan gotong royong melibatkan semua masyarakat berbagai usia. Luweng ini ditemukan saat hujan lebat air menggenangi tujuh rumah warga selama hampir empat hari pada awal Desember 2017 lalu. Luweng yang tertutup sampah dan tanah ditemukan akhirnya mampu menampung genangan air yang semula membanjiri tujuh rumah warga setinggi hampir 1,5 meter.

Saat ini, gerakan pelestarian luweng rencananya akan dilakukan di Dusun Kuwon Kidul, Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu. Sejumlah tokoh masyarakat RT dan dusun telah membahas kegiatan tersebut dan menyusun kebutuhan material untuk segera direalisasikan bulan Januari ini.”Kami sudah dua kali musyawarah dengan warga untuk menyiapkan gotong rotong” ujar Agustinus Iman pendamping masyarakat Dusun Kuwon usai memimpin musyawarah. Dari pendataan dilakukan Desa Pacarejo ini paling banyak ditemukan luweng yang tidak berfungsi baik akibat tertutup sampah dan tanah. Pada bencana akhir tahun 2017 lalu, desa ini tercatat menjadi korban terparah dan jumlah pengungsian terbesar di Gunungkidul yakni mencapai 400 keluarga karena rumah terendam genangan air.

Lebih jauh, tim kerja pelayanan kemasyrakatan Paroki Wonosari, Endro Tri Guntoro menambahkan, gereja dan umat katolik memiliki satu gerakan menjaga kelestarian bumi dengan fokus perhatian untuk merawat keutuhan ciptaan Tuhan termasuk luweng, bukit karst, gunung, hutan, kualitas udara, kualiras air dan seluruh karya ciptaan Allah lainnya untuk kemakmuran bersama.

Pekerjaan kemasyarakatan paroki saat ini terus diluaskan dari semula pelayanan penanganan posko tanggap bencana dengan titik jangkauan 23 titik pengungsian kelompok korban banjir dan rehabilitasi rumah rusak. Gerak pelayanan kemasyarakatan gereja katolik Wonosari saat ini juga tengah melakukan sinkronisasi data gagal panen pasca banjir yang tengah dirampungkan Pemkab Gunungkidul.

“Sektor pertanian juga menjadi pekerjaan utama untuk kita hadir ditengah harapan para petani pupus akibat bencana alam. Jangan sampai mereka putus harapan dan tidak menikmati kebahagiaan hidup,” pungkas Endro.

bambang sk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here