Home Berita Anshor NU Gunungkidul Dukung Sekolah Kebhinekaan

Anshor NU Gunungkidul Dukung Sekolah Kebhinekaan

735
0
SHARE

KARANGMOJO, tiras.co – Ketua Anshor NU Kabupaten Gunungkidul Lutfi Kharis Mafhudz saat bincang-bincang malam dengan peserta sekolah Kebhinekaan Gunungkidul, Sabtu (25/8) mengatakan dirinya mengapresiasi Sekolah Kebhinnekaan yang terus digelorakan lintas organisasi keagamaan yang ada Gunungkidul. Walaupun belum semua organisasi keagamaan mengirim perwakilan anak muda ikut sebagai peserta, ketua Anshor NU menyatakan dukungan kegiatan Sekolah Kebhinnekaan. Ia berharap Sekolah Kebhinnekaan menjadi ruang bersama mempersiapkan generasi muda untuk lebih mencintai keberagaman untuk mewujudkan persaudaraan dan kerukunan ditengah masyarakat.

Sekolah Kebhinnekaan Gunungkidul angkatan kedua tahun 2018 dilaksanakan lintas organisasi keagamaan terdiri dari Fatayat NU, Majelis Budhayana Indonesia, Anshor NU, Pemuda Katolik, Badan Kerjasama Gereja, Klasis, PHDI, Jamaah Ahmadiyah Indonesia, Paroki Wonosari, Forum Anak Gunungkidul dan Pemkab Gunungkidul.

Ada sebanyak 38 peserta Angkatan II tahun Sekolah Kebhinnekaan Gunungkidul akan mengikuti tiga tahap kegiatan Live In di komplek rumah ibadah dan Pondok Pesantren sebagai ruang belajar bersama mengelola dan merawat keberagaman dikalangan remaja dan anak muda.

Sejumlah narasumber disiapkan sebagai tenaga didik Sekolah Kebhinnekaan Gunungkidul mulai dari akademisi, rohaniwan, tokoh pemuka agama, pegiat perdamaian, dan beberapa LSM, yang konsen terhadap upaya kemajuan pengembangan keberagaman.

Kepala Sekolah Kebhinnekaan Gunungkidul, Christiono Riyadi mengatakan, kegiatan pembelajaran Live-In tajap pertama bertempat di GKJ Wiladeg akan mengajarkan ketrampilan anak-anak mengelola keberagaman yang kurang terpenuhi di sekolah formal. Adapun tahap kedua pada September di Vihara Panggang, dan live In tahap ketiga bersamaan dengan peringatan hari Sumpah Pemuda. Melalui ragam materi dan kurikulum yang disiapkan, para peserta diberikan dasar-dasar pemahaman secara benar tentang Pancasila dan Konstitusi, teori identitas, penggunaan media sosial untuk daya dukung keberagaman agar semakin terampil memahami kehidupan multikultur di lingkungan masyarakat.

Sekretaris Sekolah Kebhinnekaan Gunungkidul, Laily, tenaga fasilitator yang diterjunkan ormas Fatayat NU Gunungkidul, menyatakan, gerakan lintas agama memiliki peran penting sebagai benteng menghadapi situasi yang rawan dipermainkan kelompok tak bertanggugjawab menggunakan cara politik identitas ditengah menghadapi tahun politik ini. Kekuatan sipil harus diajak membangun kekuatan pluralisme dari basis akar masyarakat paling bawah sebagai kebutuhan bersama demi tetap menjaga moral demokrasi, tegaknya Pancasila dan perwujudkan persatuan nasional.

Ratna, peserta dari utusan IPPNU Gunungkidul mengaku mendapat pengalaman baru dari kegiatan yang baru sekali ini diikuti. Bersama teman baru tinggal semalam di gereja umat kristen, Ratna bisa saling berbagi pengalaman baik.

“Kami tambah pengetahuan dengan mendapatkan teori identitas dari Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta,” tambah peserta utusan Majelis Budhayana Indonesia Kabupaten Gunungkidul ditemui usai mengikuti acara pembukaan oleh Wakil Bupati Gunungkidul, Imawan Wahyudi.

edr

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here