Home Berita Ada Pihak Kondisikan Kebohongan Masif

Ada Pihak Kondisikan Kebohongan Masif

650
0
SHARE
UNGKAP KEBOHONGAN: Pembicara Forum Mangunwijaya, Wening Udasmoro dan Haryatmoko menyampaikan gagasannya mengenai kebohongan yang semakin masif.(Foto: dok UGM- )

JOGJA, tiras.co – Kebohongan lewat media sosial menghancurkan ruang publik yang pertaruhannya
adalah penerimaan pluralitas. Padahal menerima pluralitas adalah pilar kebhinekaan. Kebohongan menyelinap masuk dengan mudah melalui kebingungan orang dalam membedakan antara berita, opini, fakta dan analisis.

Pakar etika moral Dr Haryatmoko SJ mengungkapakan itu dalam diskusi Forum Mangunwijaya di Fakultas Ilmu Budaya UGM. Forum Mangunwijaya merupakan kerja sama FIB bersama Kompas dan Yayasan Edukasi Dasar (DED) berlangsung sejak tahun 2009 untuk mengembangkan gagasan dan praktik humanisme dari budayawan Yusuf Bilyarta Mangunwijaya. Tema kali ini “(Anti) Pluralisme dan Pasang-Surut Kewargaan Pasca Reformasi”.

Menurutnya dinamika gerak masyarakat yang cenderung anti-pluralitas akibat situasi politik akhir-akhir ini. Dinamika masyarakat tersebut banyak dipengaruhi pula oleh perkembangan komunikasi digital, terutama dalam bentuk media sosial. Bentuk jurnalisme warga sering disalahgunakan untuk menyebarkan kabar bohong atau hoaks.

“Fenomena hoax yang masif menyeruak menyebar menghentak akal sehat masyarakat dan dunia politik. Di satu sisi, banyak orang dibuat skeptis terhadap kredibilitas media massa namun di sisi lain hoaks menunjukkan bahwa masyarakat justru mudah percaya pada beragam informasi media sosial,” tandas pengajar Universitas Indonesia dan Universitas Sanata Dharma itu.

Dikondisikan

Ia menilai ada pihak yang memang mengkondisikan masyarakat untuk mengabaikan verifikasi kebenaran. Kredibilitas berita, pesan atau opini tidak dipertanyakan lagi. Kebohongan melebar ke mana-mana.Masyarakat sudah terpolarisasi oleh ideologi dan akibatnya ketegangan serta konflik semakin mudah dipicu.

Fenomena tersebut sebagai hal yang lumrah terjadi di era post-truth yang lebih mengutamakan emosi dibandingkan dengan rasionalitas dan objektivitas data. Ia mengatakann untuk menghadapinya perlu kritik diri serta memberi waktu lebih pada bentuk komunikasi yang sering dilupakan yaitu mendengarkan perspektif pihak lain.

Ia juga menganggap perlu untuk memperkenalkan literasi media, terutama literasi komunikasi digital di sekolah, agar anak didik memahami mekanisme, teknik dan trik media sosial sehingga tidak mudah dimanipulasi.

Pembicara lain, Dekan FIB UGM, Dr Wening Udasmoro mengatakan pluralisme yang menjadi bagian dari cerita kebanggaan identitas Indonesia justru menjadi alien dan mulai dipertanyakan kebaradaannya. Orang bahkan takut dan enggan membahasnya. arus kebebasan yang telah lama dinantikan kini justru mewujud dalam euforia yang membawa ekstremitas sikap secara konkret.

yudhistira

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here