Home Berita Mobil Listrik Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi

Mobil Listrik Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi

496
0
SHARE
Darmawan Prasodjo menyampaikan kebijakan mobil listrik bisa mengurangi penggunaan BBM sehingga menghemat perekonomian negara. (tiras.co/dok KSP)

JAKARTA, tiras.co – Deputi I Kepala Staf Kepresidenan Darmawan Prasodjo mengatakan impor bahan bakar minyak (BBM) bisa menjadi masalah yang akan membebani ekonomi Indonesia ke depan.

Dalam sepuluh tahun lagi berpotensi menjadi kerikil yang menghambat pertumbuhan ekonomi, mengingat besarnya biaya impor yang terus meningkat karena besarnya pertumbuhan kendaraan bermotor dari tahun ke tahun.

Darmawan mengungkapkan itu pada seminar dalam rangka Hari Listrik Nasional ke-74 (HLN ke-74) di Jakarta Convention Center (JCC), Rabu (9/10/2019).

Lebih lanjut ia menjelaskan Indonesia kini harus mengalokasikan lebih Rp 300 triliun setiap tahun untuk mengimpor minyak mentah maupun minyak olahan padahal Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia kini sekitar Rp 14.000 triliun atau sekitar 1 triliun US$.

”Apabila Indonesia mengimpor BBM sebesar Rp 140 triliun saja atau 1% dari PDB, itu bisa mengurangi satu persen pertumbuhan ekonomi nasional. Kalau impornya sekitar Rp 320 triliun sampai Rp 340 triliun, pengurangannya terhadap pertumbuhan ekonomi sekitar 2,4 persen sampai 2,5 persen,” papar Darmawan.

Karena itu impor BBM, minyak mentah maupun minyak olahan bisa diselesaikan melalui perubahan kebijakan. Dengan demikian pertumbuhan ekonomi nasional tidak akan terkunci pada kisaran lima persen.

Pertumbuhan ekonomi nasional diharapkan bisa naik menjadi sekitar 7,5 persen, paralel dengan terjaganya impor BBM dan berubahnya pola konsumsi BBM di masyarakat.

Antisipasi

Pemerintahan Presiden Joko Widodo telah mengantisipasi sekaligus menemukan jalan keluar dengan mengeluarkan Peraturan Presiden No 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan.

Saat ini angka penjualan mobil nasional meningkat hingga mencapai 1,1 juta unit per tahun. Padahal penjualan mobil nasional biasanya berada di angka 1 juta unit per tahun.

Kondisi tersebut tak lepas dari keberhasilan pemerintah yang mampu membangun infrastruktur jalan raya melebihi target dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019.

Impor BBM Indonesia tidak lagi Rp 300 triliun per tahun, melainkan bisa meningkat menjadi Rp 1.000 triliun per tahun. Ini mengurangi pertumbuhan ekonomi. Kondisi tersebut sangat menekan perekonomian Indonesia di masa depan.

”Karena itulah rancangan perpres tentang kendaraan listrik mengalami perubahan perancangan signifikan dan cara pandang. Semula insentif pajak diberikan hanya berdasarkan pengurangan emisi. Namun skema ini dinilai bisa disiasati oleh industri otomotif yang memproduksi kendaraan berbahan bakar fosil dengan cara mengurangi kapasitas mesinnya,” jelas Darmawan.(bram)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here