Home Berita 3 Guru Besar Bakal Tampil di Sastra Bulan Purnama

3 Guru Besar Bakal Tampil di Sastra Bulan Purnama

412
0
SHARE

BANTUL, tiras.co – Tiga guru besar bakal tampil di acara Sastra Bulan Purnama di Tembi Rumah Budaya Jl. Parangtritis Bantul, Selasa (23/4/2019). Ketiganya adalah Prof Dr Budi Wignyosoekarto dari UGM, Prof Dr RM. Teguh Supriyanto (Unesa, Semarang), dan Prof Harno Dwi Pranowo (UGM).

Menurut koordinator acara Ons Untoro, acara ini akan diisi peluncuran buku puisi fotografi karya Novi Indrastuti dan Harno Depe, yang berjudul ‘Tapak Jejak Peradaban’. Kolaborasi puisi dan fotografi sudah beberapakali dilakukan oleh Novi dan Harno. Keduanya seperti tidak mau memisahkan antara puisi dan fotografi. Bagi keduanya, fotografi mempunyai suasana puitis dan puisi mengandung visual fotografis. Novi Indrastuti sehari-harinya sebagai pengajar di jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya UGM, dan Harno Dwi Pranowo adalah Guru Besar UGM dan mengajar di Fakultas MIPA UGM.

Dr Novi Indrastuti, sebagai penyair akan tampil di awal sebelum para guru besar tampil membacakan puisi karyanya. Selain itu akan tampil membaca puisi, Armansyah Prasakti,S.Not.,M.H. seorang notaris dan dari ISI Yogya. Prima Dona Hapsari, SPd.M.Hum, seorang pegiat museum RM. Donny Surya Megananda akan ikut tampil membacakan puisi karya Novi Indrastuti.

Selain akan dibacakan tiga guru besar, puisi Novi Indrastuti jug siap dibacakan para pembaca yang memiliki profesi berbeda. Beberapa puisi Novi akan digarap menjadi lagu oleh Nyoto Yoyok dan Ana Ratri. Keduanya sudah sering pentas lagu puisi. Tidak hanya di Sastra Bulan Purnama, tetapi di tempat-tempat lain, termasuk di luar kota. Bagi Yoyok dan Ana Ratri, puisi tidak hanya dibacakan, tetapi bisa diolah menjadi lagu, tetapi nuansa puisinya tidak hilang.

Nyoto Yoyok mengatakan, setiap mengolah puisi menjadi lagu, dirinya berusaha menjaga agar puisinya tetap kental, dan lagunya tidak jatuh menjadi sejenis lagu pop. Novi dan Harno, keduanya memiliki kepekaan menangkap momentum puitis. Hanya, keduanya berbeda dalam merespon. Harno menangkap momentum melalui kamera dan Novi menuliskannya dalam bentuk puisi. “Momentum puitis yang ditangkap oleh Novi dan Harno, dirajut menjadi satu buku puisi-fotografi dan diluncurkan di Sastra Bulan Purnama,” ujarnya.

Sebelumnya, Harno dan Novi menerbitkan buku sejenis di tahun 2018 dan diberi judul ‘Kepundan Kasih’. Dalam buku puisi-fotografi ini, Harno menyajikan foto-foto yang obyeknya diambil di berbagai kota, tidak hanya obyek di Yogya. “Setiap kali saya pergi memang tidak lupa membawa foto. Setiap momentum selalu akan saya bidik dari lensa kamera,” kata Harno. */ bambang sk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here