Home Berita Strategi Komunikasi Harus Munculkan Simbol-simbol Budaya Pangan Lokal

Strategi Komunikasi Harus Munculkan Simbol-simbol Budaya Pangan Lokal

999
0
SHARE
Mohamad Zulkarnain Yuliarso

JOGJA, tiras.co – Strategi komunikasi tidak secara signifikan memeengaruhi sikap terhadap kebiasaan makan pangan lokal. Tidak berpengaruhnya strategi komunikasi secara signifikan dikarenakan tidak semua saluran yang digunakan dalam usaha membangun kebiasaan makan pangan lokal rumah tangga bekerja dengan baik, di mana media massa merupakan saluran yang dipersepsikan tidak memberikan kontribusi informasi diversifikasi pangan lokal.

“Penyebaran informasi lebih didominasi melalui getok tular dan proses pembelajaran sosial,” kata Dosen Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu, Mohamad Zulkarnain Yuliarso dalam promosi doktor Prodi Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan di Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta, Rabu (31/1/2018).

Dalam disertasinya berjudul “Strategi Komunikasi, Ketersediaan dan Akses, Budaya, dan Sikap Sebagai Determinan Faktor Kebiasaan Makan Pangan Lokal di Kabupaten Bengkulu Utara” disampaikan, strategi komunikasi berkolerasi positif dengan budaya. Ini menunjukkan bahwa melalui strategi komunikasi yang tepat dan sesuai budaya masyarakat, maka akan mempengaruhi sikap dan kebiasaan makan pangan lokal.

Dalam penelitiannya diungkapkan, lebih dari 50% rumah tangga di Bengkulu Utara masih berkebiasaan makan pangan lokal yang rendah. Namun demikian diakui rumah tangga setempat sudah mulai membiasakan diri dengan kadang-kadang mengkonsumsi pangan lokal. Kebiasaan makan pangan lokal ditujukan dengan mengkonsumsi dalam jumlah yang sesuai kebutuhan menjaga kualitas dan keamanan bahan pangan lokal, serta menjaga kontinuitas konsumsi mereka. “Secara umum, pangan lokal utama yang dikonsumasi oleh rumah tangga yaitu singkong, ubi jalar dan jagung,” sebut Zulkarnain Yuliarso.

Menurutnya, pangan lokal sering tersedia dan mudah diakses oleh rumah tangga. Ketersediaan pangan lokal berasal dari produksi sendiri, ketersediaan pasar, cadangan pangan dan pertukaran/transfer. “Rumah tangga mudah dalam dalam mengakses pangan lokal, baik dari aspek ekonomi ataupun dari aspek fisik,” katanya.

Ia berpendapat, strategi komunikasi yang dilakukan dalam kegiatan diversifikasi pangan lokal haruslah menyesuaikan dengan situasi sosial dan budaya yang ada di masyarakat. Pendekatan-pendekatan dan pesan-pesan diversifikasi melalui sosialisasi dan promosi haruslah mampu memperkuat kesadaran untuk melestarikan nilai-nilai terkait pangan lokal yang memang sudah berakar. Sehingga masyarakat lebih percaya diri dan bangga dengan pangan lokal, yang pada akhirnya dapat menampilkan perilaku-perilaku dengan mendukung kebiasaan makan pangan lokal.

Selain itu, lanjutnya, strategi komunikasi juga harus dapat memunculkan kembali simbol-simbol budaya pangan lokal yang pernah tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Sehingga dapat terpelihara baik dengan partisipasi masyarakat lokal dan pemimpin lokal serta dukungan pemda setempat. Misalnya, dengan mengadakan festival/gelar budaya pangan lokal di setiap desa, dengan memanfaatkan dana desa yang ada. Gagasan lain yang dapat dipertimbangkan sebagai media informasi adalah folk media. Ini karena masyarakat masih menyukai budaya dan kesenian tradisional sebagai media transformasi nilai-nilai, termasuk pesan-pesan pembangunan.

bambang sk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here